Ini Penyebab Utama Rendahnya Anggaran Pendidikan Daerah

731446699418
Indra Charismiadji, President Director PT Eduspec Indonesia (Istimewa)


Jakarta –
Praktisi Pendidikan, Indra Chrismiadji, mengatakan, penyerapan anggaran pendidikan di seluruh Indonesia masih jauh dari target yang diamanatkan oleh Undang-undang (UU).

“Rendahnya penyerapan ini, dikarenakan dalam pembuatan Rancangan Pembangunana Jangka Menengah Daerah (RPJMD), banyak pemerintah daerah yang hanya copy paste dari RPJM Pusat. Hal ini tentunya, sangat memprihatinkan,” ujar Indara dalam acara Diskusi Pendidikan di FX Senayan, Jakarta, Selasa (12/4) petang.

Lebih lanjut Indra menyatakan, sangat tidak mengherankan jika banyak pemerintah daerah (Pemda) yang tidak memahami pengelolaan pendidikan, sehingga banyak ditemukan program daerah yang merupakan copy paste dari program pemerintah pusat. “Dengan tindakan itu, daerah tidak memiliki inovasi,” kata dia.

Menurutnya, pemda tentu memerlukan bantuan dalam penyusunan RPJMD, khususnya yang menyangkut masalah pendidikan. Apalagi, lanjut Indra, memasuki abad ke-21 ini, banyak dana pendidikan yang seharusnya bisa dialokasikan untuk pengembangan sumber daya manusia (SDM).

Selain itu, lanjut dia, rendahnya penyerapan anggaran ini disebabkan beberapa hal seperti, ketakutan kepala sekolah mengunakan anggaran, serta ketidakmampuan dalam mengelola dan menyusun program sehingga kurang kreativitasnya dinas pendidikan (Disdik) dalam membuat program.

“Ketidakmampuan pemda dalam mengembangkan program- program pendidikan, menjadi problema tersendiri dalam mengelola anggaran pendidikan. Untuk kedepan, pemda harus bermitra dengan pihak yang memahami pengelolaan dana pendidikan. Pasalnya, selama ini banyak pemda yang hanya bermitra dengan pedagang buku dan kontraktor,” kata Indra.

Direktur Utama PT Eduspec Indonesia ini menyebutkan, alokasi dana pendidikan sebagaimana diamanatkan Undang-undang sebesar 20 persen dari APBD ternyata tidak pernah dilaksanakan oleh pemda. Terbukti, kata dia, dari 34 provinsi yang ada, seluruhnya tidak mengalokasikan dana pendidikan sebesar 20 persen.

“Semuanya membebankan kepada pusat lewat APBN. Mestinya, tanggung jawab biaya pendidikan tidak hanya di pusat. Pemda harus terlibat‎ sehingga tidak hanya sebagai penerima dana APBN semata,” kata dia.

Indra menuturkan, jika ada Pemda yang mengaku sudah menyiapkan alokasi dana pendidikan sebesar 20 persen atau melebihinya, merupakan sebuah kebohongan.

“Karena, tidak ada yang melakukan hal tersebut. Jikapun ada yang mengalokasikan dana dengan jumlah besar, biasanya dalam misi tentu. Misalnya, pada saat akan berlangsung pilkada,” tambahnya.

Maria Fatima Bona/FER

Suara Pembaruan

http://www.beritasatu.com/kesra/359790-ini-penyebab-utama-rendahnya-anggaran-pendidikan-daerah.html

Eduspec Indonesia Selenggarakan Seminar Pendidikan di Ende

para-peserta-seminar-pendidikan_20160419_100109

Para peserta seminar pendidikan, Selasa (19/4/2016)

Laporan Wartawan Pos Kupang, Romualdus Pius

POS KUPANG.COM, ENDE — Lembaga Konsultasi pendidikan (Eduscpec) Jogyakarta menyelenggarakan seminar pendidikan di Aula Santa Ursula, Ende, Selasa (19/4/2016).

Seminar dengan tema pendidik sebagai garam dan terang dunia pendidikan di era digital menghadirkan para guru dan pemerhati pendidikan di Kabupaten Ende. (*)

Penulis: Romoaldus Pius
Editor: Rosalina Woso
Sumber: Pos Kupang

e-Sabak, Cara Pembelajaran Baru Siswa di Era Teknologi Informasi

esabak-eduspec-indonesia

Jakartakita.com – Jaman telah berubah. Saat ini pengaruh teknologi informasi seakan tak ter-elakan lagi. Gaya hidup masyarakat pun tidak sama lagi dengan di masa lalu.

Namun ironisnya, perkembangan dan kemajuan jaman tidak terlalu berdampak signifikan di dunia pendidikan Tanah Air.

Padahal, banyak kalangan meyakini, jaman yang secara manual pada akhirnya akan tergilas dengan teknologi yang menjadi salah satu ciri peradaban manusia Abad ke-21.

Menyikapi kondisi tersebut, PT Eduspec Indonesia memperkenalkan sistem aplikasi belajar aktif dan kreatif elektronik atau biasa disebut e-Sabak.

Dengan system ini, pembelajaran siswa bisa dilakukan secara offline maupun secara online, karena bentuknya berupa gadget/tablet yang memiliki aplikasi berbasis Windows yang sudah disesuaikan dengan kebutuhan para siswa.

“Kami berusaha mewujudkan pendidikan Indonesia yang lebih baik. e-Sabak dapat membantu siswa dan sekolah dalam mencapai keberhasilan, serta membuka peluang baru meningkatkan pembelajaran dan pengajaran,” kata Indra Charismiadji, President Director PT Eduspec Indonesia kepada Jakartakita.com, di Jakarta, Jumat (10/7/2015).

Indra juga mengatakan, dampak positif dari sistem ini memungkinkan siswa untuk belajar secara online, mengubah sikap belajar dan memberi peluang bagi guru untuk meningkatkan produktifitas sekaligus menciptakan suasana belajar yang baru.

“Produk ini untuk digunakan para siswa SD, SMP, SMA dan SMK. Sebenarnya untuk Universitas juga bisa, tapi sistemnya beda,” jelasnya lagi.

Menurut Indra, ada 3 framework yang ditawarkan melalui system pembelajaran ini. “Kita menyebutnya 3 i, yaitu ; Infrastruktur, berupa fasilitas pendukung dalam pendidikan, Infostruktur, berupa penyediaan informasi dari para pengajar (guru) kepada para murid dan Infokultur, bagaimana merubah kultur guru di jaman digital ini, agar berfungsi sebagai sumber informasi,” tutur Indra.

Ditambahkan, mengingat kualitas pendidikan Indonesia saat ini masih terpuruk, ia berharap e-Sabak dapat segera direalisasikan penggunaannya di semua sekolah di seluruh Indonesia.

Namun sayangnya, banyak daerah masih terkendala dalam hal terbatasnya anggaran. Pasalnya, program e-Sabak yang ditawarkan secara lengkap ke setiap sekolah, memerlukan anggaran sebesar Rp 1,2 Miliar.

“Saat ini sudah tiga daerah yang menerapkan e-Sabak, yaitu di NTB, Bali dan Riau. Program ini juga sejalan dengan kebijakan Kementerian Pendidikan yang diluncurkan pada tahun ini,” tandasnya.

Sumber : http://jakartakita.com/2015/07/10/e-sabak-cara-pembelajaran-baru-siswa-di-era-teknologi-informasi/

E-Sabak, Inovasi Pendidikan Abad 21

1429952281
PT Eduspek Indonesia meluncurkan e-Sabak, sebuah inovasi pendidikan yang menerapkan pembelajaran abad 21 di sekolah. e-Sabak merupakan Sistem Aplikasi Belajar Aktif dan Kreatif elektronik (Sabak) menggunakan sabak atau tablet elektronik. (Beritasatu.com/Feriawan Hidayat)

Jakarta – Kehadiran teknologi membuat dunia pendidikan lebih efisien dan sistematis. Apalagi, perkembangan teknologi yang demikian pesat, tentunya memberikan pengaruh terhadap berbagai sendi kehidupan, termasuk dunia pendidikan di tanah air.

Berkaitan dengan usaha mewujudkan pendidikan Indonesia yang lebih baik, perusahaan yang menyediakan jasa konsultasi pendidikan, PT Eduspec Indonesia, menghadirkan e-Sabak (Sistem Aplikasi Belajar Aktif dan Kreatif/Sabak), dengan memanfaatkan teknologi sabak atau tablet elektronik.

Direktur Utama PT Eduspec Indonesia, Indra Charismiadji mengatakan, proyek ini merupakan kerjasama pihaknya dengan Intel Education, untuk membantu siswa dan sekolah dalam mencapai keberhasilan, serta membuka peluang baru meningkatkan pembelajaran dan pengajaran.

“Dampak positif dari sistem ini memungkinkan siswa untuk belajar secara online, mengubah sikap belajar dan memberi peluang bagi guru untuk meningkatkan produktifitas sekaligus menciptakan suasana belajar yang baru,” ujar Indra di Jakarta, Sabtu (25/4).

Pihak Eduspec Indonesia, lanjut dia, menyediakan perangkat keras yang terdiri dari troli penyimpanan tablet, perlengkapan siswa dan guru, proyektor, wireless display, router, headset, dan UPS.

“Sedangkan untuk perangkat lunak, disediakan antara lain oleh Intel Education Lab, Intel Education Media Camera, SPARKvue, ArtRage, Fun With Construction, Kno, Foxit Reader, Insight dan Deep Freeze,” tambah Indra.

Program e-Sabak yang ditawarkan secara lengkap dengan kisaran harga Rp 1,2 Miliar, lanjut dia, sejalan dengan kebijakan Kementerian Pendidikan yang diluncurkan pada tahun ini.

“Saat ini, sudah ada sekitar 88 sekolah di seluruh Indonesia, yang menyatakan minatnya untuk mengaplikasikan sistem ini untuk membantu sistem pembelajaran mereka,” jelas Indra.

Feriawan Hidayat

Sumber : http://www.beritasatu.com/iptek/268511-esabak-inovasi-pendidikan-abad-21.html