Sikapi Kemajuan IT, FITK UIN Jakarta Gelar Seminar Teknologi Pendidikan

Dalam rangka menyikapi secara positif akan kemajuan teknologi informasi, serta memeriahkan Milad ke-60, Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK) UIN Jakarta menggelar Seminar Sehari yang bertemakan Teaching With Technology. Seminar yang digelar hasil kerjasama FITK UIN Jakarta dan PT. Eduspec Indonesia itu dilaksanakan di Auditorium Harun Nasution, Selasa (21/02).

Auditorium Utama, BERITA UIN Online— Dalam rangka menyikapi secara positif akan kemajuan teknologi informasi, serta memeriahkan Milad ke-60, Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK) UIN Jakarta menggelar Seminar Sehari yang bertemakan Teaching With Technology. Seminar yang digelar hasil kerjasama FITK UIN Jakarta dan PT. Eduspec Indonesia itu dilaksanakan di Auditorium Harun Nasution, Selasa (21/02).

Hadir sekaligus membuka secara resmi seminar, Dekan FITK Prof Dr Ahmad Thib Raya MA, didampingi oleh Wakil Dekan Bidang Akademik Muhammad Zuhdi Med PhD, Wakil Dekan Bidang Administrasi Umum Dr Ahmad Sofyan MPd, Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan Alumni dan Kerjasama Dr Fauzan MA. Selain itu, turut hadir segenap sivitas akademika FITK UIN Jakarta, Direktur Utama Eduspec Indonesia Indra Charismiadji, serta tamu undangan.

Dalam sambutannya, dekan mengapresiasi terselenggaranya acara tersebut, ia juga mengucapkan terimakasih kepada para narasumber yang menyempatkan untuk hadir, dan para panitia yang telah berusaha mensukseskan terselenggaranya acara seminar tersebut.

“Terimakasih kepada para narasumber yang hari ini menjadi guru kami semua. Semoga apa yang nanti disampaikan memberikan kontribusi bagi kemajuan FITK khususnya dan UIN Jakarta secara keseluruhan,” ujar Dekan.

Ditambahkannya, selain dalam rangka memriahkan milad FITK ke-60, seminar ini juga bertujuan untuk bagaimana kita sebagai insane akademis mampu memanfaatkan kemajuan teknologi informasi saat ini. Pasalnya, proses belajar mengajar akan lebih epektif dan efisien apabila menggunakan pasilitas teknologi.

“Oleh karena itu, peran IT dalam dunia pendidikan sangatlah dibutuhkan. Agar proses belajar mengajar berjalan dengan epektif dan efisien. Terlebih, UIN Jakarta mulai dari tahun ini membekali alumninya dengan Sertipikat Keterangan Pendamping Ijazah (SKPI), dimana sebelum lulus dari UIN Jakarta, mahasiswa tersebut diikutkan dalam pelatihan, terutama pelatihan IT yang berkaitan dengan pendidikan,” jelas Guru Besar Bahasa Arab tersebut.

Dari pantauan BERITA UIN dilokasi, pada acara tersebut dilakukan pula penandatanganan kerjasama antara FITK UIN Jakarta oleh Dekan FITK Prof Dr Ahmad Thib Raya MA, dengan PT. Eduspec Indonesia oleh Direktur Utama Indra Charismiadji.

Sebagai informasi, Eduspec Indonesia adalah perusahaan yang menyediakan jasa konsultansi pendidikan dengan visi, untuk menjadi solusi atas tantangan pendidikan global melalui program-program yang disiapkan guna meningkatkan kualitas pembelajaran di seluruh Indonesia.

Eduspec Indonesia telah bekerjasama dengan pemerintah daerah di banyak Provinsi di Indonesia dalam usaha untuk mewujudkan pendidikan Indonesia yang lebih baik khususnya pendidikan yang sesuai dengan perkembangan di abad 21. (lrf)

 

Sekolah Diminta Ajarkan Computational Thinking untuk Menangkan Persaingan

pengamat-pendidikan-indra-charismiadji-saat-seminar-nasional-pendidikan-saat-_160426150747-366

Pengamat Pendidikan Indra Charismiadji. (Republika / Rakhmawaty La’la

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Sistem pendidikan di Indonesia saat ini dinilai belum mampu menjawab tantangan masa depan yang penuh persaingan. Pengamat Pendidikan Indra Charismiadji mengatakan Indonesia harus menyadari dunia pendidikan sangat berubah.

Indra berkata salah satu cara mengejar ketertinggalan pendidikan Indonesia adalah dengan menerapkan STEM (Science, Technology, Engineering and Math). Sebuah model pembelajaran yang menerapkan pembelajaran tematik integratif karena menggabungkan empat bidang pokok dalam pendidikan, yaitu ilmu pengetahuan, teknologi, matematika, dan engineering.

Metode STEM mengajak siswa untuk mengintegrasikan mata pelajaran dan mengkorelasikannya dengan kehidupan sehari-hari. Proses pembelajaran melibatkan tujuh keahlian utama bagi siswa abad 21, yaitu, kolaborasi, kreatif, berpikir kritis, komputerisasi, pemahaman budaya, dan mandiri dalam belajar serta berkarier.

“Materi kurikulum STEM mengajarkan anak didik tentangcomputational thinking, bukan sekadar belajar menekan tombol melainkan belajar memecahkan masalah dengan teknologi atau berpikir layaknya komputer. Sekolah perlu mengajarkan anakcomputational thinking untuk memenangkan persaingan,” kata Indra.

Pendidikan di Indonesia kian mengalami perubahan. Dulu dengan kertas, kapur, dan buku, kini harus mampu menyesuaikan teknologi seperti komputer.

“Sekolah yang menerapkan keterampilan computational thinking akan menjadi barometer bagi sekolah lain dan mampu bersaing dan menjadi pemimpin dalam penerapan pembelajaran abad 21,” ujar Indra.

Sementara Head of Student Life Sampoerna University, Eddy Henry mengatakan, computational thinking merupakan sebuah pendekatan yang diyakini dapat menjadi salah satu solusi dalam menjawab tantangan masa depan, dengan lebih cermat dan terukur. Sampoerna Academy dan Sampoerna University telah mengimplementasikan Pendidikan Abad 21 melalui pendekatan STEAM yang yang mengedepankan computational thinking.

“Pendekatan ini sudah diperkenalkan sejak taman kanak-kanak dan tingkat sekolah dasar, melalui pengajaran dan permainan yang mendorong mereka untuk mampu memecahkan masalah sederhana. Pada tingkat pendidikan menengah, hingga perguruan tinggi, siswa akan diberikan tingkat pemecahan permasalahan yang lebih kompleks.”

Mereka juga diperkenalkan bagaimana memanfaatkan alat bantu seperti komputer dan perangkat digital sesuai tujuannya.Computational thinking mampu menyiapkan para siswa untuk menghadapi kebutuhan kerja di masa depan dan meraih kesuksesan di era globalisasi.

Sumber : http://www.republika.co.id/berita/pendidikan/eduaction/16/10/13/oezarm359-sekolah-diminta-ajarkan-computational-thinking-untuk-menangkan-persaingan

Kata Pakar, Ini yang Dibutuhkan Siswa Abad 21

dsc_0571Pakar Pendidikan Abad 21, Indra Charismiadji (kiri) saat dalam seminar Computational Thinking, A Global Trend in Education, di Jakarta, Kamis (13/10). FOTO: Mesya/JPNN.com

JAKARTA – Pakar Pendidikan Abad 21, Indra Charismiadji menyatakan sistem pendidikan di Indonesia saat ini belum mampu menjawab tantangan masa depan yang penuh persaingan dan semakin kompleks. Dari berbagai survei yang dilakukan lembaga-lembaga krediibel dunia, Indonesia masih menempati urutan bawah.

“Perkembangan dunia pendidikan sangat cepat, karena itu Indonesia harus menyesuaikan kurikulum agar bisa bersaing di era global. Sekolah harus mampu menyiapkan anak didik menghadapi dunia nyata yang penuh masalah agar siap dalam persaingan global,” kata Indra dalam seminar Computational Thinking, A Global Trend in Education, di Jakarta, Kamis (13/10).

Salah satu cara mengejar ketertinggalan pendidikan Indonesia adalah dengan menerapkan STEM (Science, Technology, Engineering and Math). Metode  pembelajaran populer di dunia‎ ini menerapkan pembelajaran tematik integratif karena menggabungkan empat bidang pokok dalam pendidikan, yaitu ilmu pengetahuan, teknologi, matematikan, dan enjinering.

“Metode STEM, mengajak siswa untuk mengintegrasikan mata pelajaran dan mengkorelasikannya dengan kehidupan sehari-hari. Proses pembelajarannya melibatkan tujuh keahlian utama bagi siswa abad 21, yaitu kolaborasi, kreatif, berpikir kritis, komputerisasi, penghematan budaya, dan mandiri dalam belajar serta berkarir,” papar pria yang aktif di organisasi Dewan Pakar di Asosiasi Guru TIK/KKPI Indonesia (AGTIFINDO).

Indra menambahkan, saat ini materi kurikulum STEM telah dipersiapkan untuk sekolah-sekolah dalam negeri. Kurikulum tersebut mengajarkan anak didik tentang computational thinking. Artinya belajar bukan sekadar menekan tombol, melainkan belajar memecahkan masalah dengan teknologi atau berpikir layaknya komputer.

Sementara Head of Student Life Sampoerna University Eddy Henry mengatakan, Cumputatational thinking merupakan suatu pendekatan yang bisa menjadi salah satu soulusi dalam menjawab tantangan masa depan, dengan lebih cermat dan terukur. Sampoerna Academy dan Sampoerna University telah mengimplementasikan pendidikan abad 21 melalui pendekatan science, technology, engineering, arts dan math (STEAM) yang mengedepankan computational thinking.

“Pendekatan ini sudah diperkenalkan sejak TK dan SD melalui pengajaran maupun permainan yang mendorong mereka untuk mampu memecahkan masalah sederhana,” tandas Eddy.(esy/jpnn)

Sumber : http://www.jpnn.com/read/2016/10/13/474054/Kata-Pakar-Ini-yang-Dibutuhkan-Siswa-Abad-21-

Anggaran Pendidikan Belum Berhasil Tingkatkan Mutu

123-2

JAKARTA, suaramerdeka.com – Anggaran negara yang dialokasikan untuk sektor pendidikan dinilai belum dikelola secara maksimal. Salah satu faktanya adalah belum dapat memajukan mutu pendidikan secara merata di seluruh wilayah Indonesia.

“Sudah banyak kajian terkait penggunaan anggaran pendidikan, termasuk dari Bank Dunia. Di mana anggaran pendidikan kita belum bisa memperbaiki mutu pendidikan, padahal anggarannya besar,” ujar pengamat pendidikan Indra Charismiadji, saat seminar dan workshop bertema “Kenali Trend Pendidikan Abad 21″, di Jakarta.

Menurutnya, salah satu hal yang menyebabkan anggaran pendidikan belum dapat memberikan hasil positif karena pemerintah tidak memiliki konsep besar dan arah pendidikan nasional. “Ini dikarenakan belum ada grand desain pendidikan kita ini mau dibawa ke mana. Seperti membangun rumah, mau membuat kamar mandi jadinya justru taman. Oleh karena itu kita butuh grand desain pendidikan,” katanya.

Dikatakan, disebabkan tidak memiliki grand desain pendidikan, maka anggaran pendidikan tidak dapat dialokasikan untuk menunjang peningkatan mutu pendidikan.  “Maka kenyataannya, yang penting anggaran itu terserap, entah menujang mutu atau tidak. Program yang dijalankan hanya copy paste. Yang menjadi ironis, kita sudah menghabiskan uang triliunan tapi hasil mutu pendidikannya tidak tampak,” tegas Indra.

Untuk itu, sambung dia, pihaknya berharap kepada pemerintah untuk mau melakukan kolaborasi dengan pihak-pihak yang memiliki konsep dan komitmen guna meningkatkan pendidikan Indonesia. “Perubahan pendidikan itu bukan hanya pekerjaan rumah pemerintah saja, tapi kita juga harus berperan memberikan masukan untuk mempersiapkan anak-anak menjawab tantangan dunia,” tandasnya.

Sementara itu, Student Life Director Sampoerna School System, Eddy Hendry mengatakan bahwa salah poin penting dalam meningkatkan mutu pendidikan adalah kualitas dari para pengajar. Untuk itu diharapkan para guru mau terus mengembangkan diri, apalagi di tengah kemajuan teknologi yang semakin berkembang.

“Kita dorong untuk guru mau terus belajar dan mengembangkan dirinya. Yang dibutuhkan sekarang bukan lagi kebijakan, tapi budaya belajar dari para guru,” katanya.

(Satrio Wicaksono / CN26 / SM Network)

Sumber : http://berita.suaramerdeka.com/anggaran-pendidikan-belum-berhasil-tingkatkan-mutu/

Biar Bisa Bersaing, Siswa Abad 21 Harus Kuasai STEM

pendidikan-abad-21
Pakar Pendidikan Abad 21, Indra Charismiadji (kiri) saat dalam seminar Computational Thinking, A Global Trend in Education, di Jakarta, Kamis (13/10). FOTO: Mesya/JPNN.com

POJOKSATU.id, JAKARTA – Pakar Pendidikan Abad 21, Indra Charismiadji menyatakan sistem pendidikan di Indonesia saat ini belum mampu menjawab tantangan masa depan yang penuh persaingan dan semakin kompleks. Dari berbagai survei yang dilakukan lembaga-lembaga krediibel dunia, Indonesia masih menempati urutan bawah.

“Perkembangan dunia pendidikan sangat cepat, karena itu Indonesia harus menyesuaikan kurikulum agar bisa bersaing di era global. Sekolah harus mampu menyiapkan anak didik menghadapi dunia nyata yang penuh masalah agar siap dalam persaingan global,” kata Indra dalam seminar Computational Thinking, A Global Trend in Education, di Jakarta, Kamis (13/10).

Salah satu cara mengejar ketertinggalan pendidikan Indonesia adalah dengan menerapkan STEM (Science, Technology, Engineering and Math). Metode  pembelajaran populer di dunia‎ ini menerapkan pembelajaran tematik integratif karena menggabungkan empat bidang pokok dalam pendidikan, yaitu ilmu pengetahuan, teknologi, matematikan, dan enjinering.

“Metode STEM, mengajak siswa untuk mengintegrasikan mata pelajaran dan mengkorelasikannya dengan kehidupan sehari-hari. Proses pembelajarannya melibatkan tujuh keahlian utama bagi siswa abad 21, yaitu kolaborasi, kreatif, berpikir kritis, komputerisasi, penghematan budaya, dan mandiri dalam belajar serta berkarir,” papar pria yang aktif di organisasi Dewan Pakar di Asosiasi Guru TIK/KKPI Indonesia (AGTIFINDO).

Indra menambahkan, saat ini materi kurikulum STEM telah dipersiapkan untuk sekolah-sekolah dalam negeri. Kurikulum tersebut mengajarkan anak didik tentang computational thinking. Artinya belajar bukan sekadar menekan tombol, melainkan belajar memecahkan masalah dengan teknologi atau berpikir layaknya komputer.

Sementara Head of Student Life Sampoerna University Eddy Henry mengatakan, Cumputatational thinking merupakan suatu pendekatan yang bisa menjadi salah satu soulusi dalam menjawab tantangan masa depan, dengan lebih cermat dan terukur. Sampoerna Academy dan Sampoerna University telah mengimplementasikan pendidikan abad 21 melalui pendekatan science, technology, engineering, arts dan math (STEAM) yang mengedepankan computational thinking.

“Pendekatan ini sudah diperkenalkan sejak TK dan SD melalui pengajaran maupun permainan yang mendorong mereka untuk mampu memecahkan masalah sederhana,” tandas Eddy.

Sumber : http://pojoksatu.id/pendidikan/2016/10/13/biar-bersaing-siswa-abad-21-harus-kuasai-stem/2/

 

Computational Thinking Perlu Diterapkan dalam Pendidikan

1476376413_kemek

SISTEM pendidikan di Indonesia saat ini belum mampu menjawab tantangan masa depan yang penuh persaingan dan semakin kompleks. Dari berbagai survei yang dilakukan lembaga-lembaga kredibel dunia, Indonesia masih menempati urutan bawah.

Hal ini disampaikan pakar pendidikan Indra Charismiadji dalam seminar ‘Computational Thinking, A Global Trend in Education- Seminar and Workshop for School Leaders’, Kamis (13/10).

“Perkembangan dunia pendidikan sangat cepat, karena itu Indonesia harus menyesuaikan kurikulum agar dapat bersaing di era global. Sekolah harus mampu mempersiapkan anak didik menghadapi dunia nyata yang penuh masalah agar siap dalam persaingan global,” kata Indra.

Salah satu cara mengatasi ketertinggalan pendidikan Indonesia ialah dengan menerapkan STEM (Science, Technology, Engineering, and Math), sebuah model pembelajaran populer di dunia yang efektif dalam menerapkan pembelajaran tematik integratif karena menggabungkan empat bidang pokok dalam pendidikan, yaitu ilmu pengetahuan, teknologi, matematika, dan enjinering.

Metode STEM, dipaparkan Indra, mengajak siswa untuk mengintegrasikan mata pelajaran dan menghubungkannya dengan kehidupan sehari-hari. Proses pembelajaran melibatkan tujuh keahlian utama bagi siswa abad 21, yaitu, kolaborasi, kreatif, berpikir kritis, komputerisasi, pemahaman budaya, dan mandiri dalam belajar serta berkarier.

Indra menjelaskan, saat ini materi kurikulum STEM telah dipersiapkan untuk di sekolah-sekolah dalam negeri. Kurikulum tersebut mengajarkan anak didik tentang ‘computational thinking‘.

“Artinya, bukan sekadar belajar menekan tombol, melainkan belajar memecahkan masalah dengan teknologi, atau berpikir layaknya komputer,” ujar pria yang aktif di organisasi Dewan Pakar di Asosiasi Guru TIK/KKPI Indonesia.

“Indonesia harus menyadari bahwa dunia pendidikan sangat berubah. Yang tadinya dengan kertas, kapur, dan buku, kini harus mampu menyesuaikan teknologi,” jelasnya.

Sumber : http://mediaindonesia.com/news/read/72087/pengamat-computational-thinking-perlu-diterapkan-dalam-pendidikan/2016-10-13

Eduspec Realisasikan Program “SMK IT Learning Center”

1431714636
Eduspec Indonesia menjalin kerjasama dengan Dinas Pendidikan Provinsi Banten untuk bidang pendidikan.


Banten – Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) sebagai salah satu lembaga pendidikan yang menyiapkan peserta didik dengan ilmu pengetahuan dan teknologi agar mampu mengembangkan diri sesuai kompetensi, memiliki peran strategis di Indonesia. Lulusan SMK yang memililiki daya kompetitif dan adaptif di lingkungan kerja maupun berwirausaha, menjadi salah satu modal membangun bangsa.

Untuk membantu meningkatkan keahlian dan kompetensi pelajar SMK di Provinsi Banten, Dinas Pendidikan menandatangani kesepakatan kerjasama (MOU) dengan PT Eduspec Indonesia. Kerjasama ini untuk merealisasikan program SMK IT Learning Center.

Hadir dalam acara ini Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Banten, H Engkos Kosasih Samanhudi, S.Pd, MM, M.Si, para Kepala SMK negeri dan swasta, Microsoft, serta Direktur Utama PT Eduspec Indonesia, Indra Charismiadji.

SMK IT Learning Center merupakan program kerjasama dengan Microsoft untuk sertifikasi Microsoft kepada siswa-siswi dan guru SMK. Akan tetapi tidak menutup kemungkinan untuk melakukan ujian dan pelatihan sertifikasi pada komunitas sekitar.

Program ini sebagaimana dicanangkan oleh Direktorat SMK yang mana menginginkan adanya sebuah project yang berkesinambunang. Melalui program SMK IT Learning Center ini, siswa-siswi di sekolah dapat belajar menggunakan kurikulum IT Academy yang mana akan membekali mereka untuk menjadi tenaga ahli, antara lain dalam bidang IT dan manajemen perkantoran.

SMK tersebut juga akan menjadi pusat pelatihan dan sertifikasi bagi masyarakat sekitar yang mana dapat semakin meningkatkan kualitas tenaga ahli di Indonesia untuk dapat bersaing dalam Masyarakat Ekonomi Global yang dimulai pada akhir tahun ini, 2015.

Pada kesempatan tersebut, PT Eduspec juga mengenalkan inovasi terbaru mereka yaitu e-SABAK (Sistem Aplikasi Belajar Aktif dan Kreatif elektronik) yang memanfaatkan teknologi SABAK atau tablet dengan aplikasi pembelajaran yang kreatif dan interaktif dari Intel (Intel Education Software).

Dampak positif dalam pembelajaran dan pengajaran melalui SABAK antara lain adalah memungkinkan siswa untuk meningkatkan kecanggihan aktivitas belajar secara online, meningkatkan antusias belajar siswa, memberi peluang bagi guru untuk meningkatkan produktivitas, sekaligus menciptakan suasana belajar yang baru.

Termasuk didalam e-SABAK adalah troli penyimpan tablet yang sudah termasuk sistem charging untuk tablet tersebut, tablet untuk siswa dan guru, proyektor, wireless display, router, headset dan UPS untuk cadangan daya bagi router. Perangkat lunak yang disediakan antara lain; Intel Education Lab Camera, Intel Education Media Camera, ArtRage, SPARKVue, dan lain sebagainya.

Perangkat lunak tersebut dapat digunakan dalam proses pembelajaran untuk semua mata pelajaran, antara lain TIK, Matematika, Fisika, Biologi, Bahasa, dan lain sebagainya. Termasuk pula di dalam paket ini adalah kurikulum yang sudah disesuaikan dengan kurikulum sekolah, serta pendampingan selama masa transisi mengajar menggunakan teknologi bagi guru-guru di sekolah.

Feriawan Hidayat/FER

http://www.beritasatu.com/kesra/274367-eduspec-realisasikan-program-smk-it-learning-center.html

Majukan Dunia Pendidikan

Picture3
Direktur Utama PT Eduspec Indonesia, Indra Charismiadji (Istimewa)


Lahir dari keluarga pendidik, Indra Charismiaji merasa bahwa faktor genetik sangat kuat mengalir di tubuhnya yang sangat menyukai dunia pedidikan. Tak heran, Direktur Utama PT Eduspec Indonesia ini terus berinovasi untuk melahirkan sesuatu yang bermanfaat guna memajukan dunia pendidikan.

“Memang sejak dari kecil, passion saya ada di dunia pendidikan. Jadi, walaupun saya terjun di dunia bisnis, tetap terkait dengan dunia pendidikan,” kata Indra di Jakarta, belum lama ini.

Menurutnya, di bidang pendidikan, tanpa idealisme tidak akan ada solusi yang bisa jalan. “Dunia pendidikan sangat berbeda dengan dunia perdagangan, atau pun jual-beli pendidikan lebih bersifat jangka panjang dan sangat abstrak. Tidak semua orang bisa terjun di dunia ini,” jelasnya.

Indra menyelesaikan studi dari the University of Toledo, negara bagian Ohio, Amerika Serikat, dengan gelar ganda di bidang keuangan dan pemasaran untuk jenjang strata satu. Lalu, dia melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi di Dana University, Ottawa Lake, negara bagian Michigan, Amerika Serikat.

Dengan berbekal pengalaman bekerja di beberapa perusahaan tingkat dunia di Amerika Serikat, antara lain Merril Lynch, Omnicare, dan Dana Corporation, tahun 2002, Indra memutuskan untuk kembali ke Tanah Air. Kemudian, dia memilih berperan aktif dalam mengembangkan kualitas pendidikan di Indonesia.

Kiprahnya dimulai dengan memperkenalkan CALL (computer-assisted language learning) untuk pertama kalinya. Pengalaman bertahun-tahun di bidang teknologi pendidikan dan jejaring tingkat internasional, membuat Pemerintah Indonesia baik di level pusat maupun daerah menempatkan Indra sebagai konsultan dalam bidang pengembangan Pembelajaran Abad 21.

Kini, Indra pun memimpin PT Eduspec Indonesia, yang merupakan bagian dari Eduspec International, yang juga beroperasi di Malaysia, Singapura, Vietnam, Filipina, dan Tiongkok. Dia pun memiliki pengalaman yang unik saat memutuskan kembali ke Indonesia, setelah memiliki karier yang cemerlang di Amerika Serikat.

“Di koran-koran dan televisi, saya selalu membaca, melihat, dan mendengar bahwa Indonesia sangat banyak masalah. Itu yang mendorong saya pulang ke Indonesia,” katanya.

Padahal, Indra saat itu sudah hidup cukup mapan bersama keluarganya di Amerika. Tapi, hal itu dia tinggalkan semua demi mewujudkan cita-citanya memperbaiki sistem pendidikan di Indonesia. Tak bisa dimungkiri, banyak teman yang sudah hidup nyaman di Amerika mencegahnya pulang.

“Bodoh kalau pulang ke Indonesia dalam kondisi yang masih kacau. Nanti saja, kalau sudah bagus, kita kembali,” katanya, menirukan saran teman-temannya.

Tapi, karena dorongan hati yang demikian kuat, ayah dua anak ni berani meninggalkan gaji sekitar Rp 500 juta per bulan untuk memulai dari nol di negaranya sendiri. “Kalau bukan orang Indonesia sendiri yang memperbaiki, lalu siapa lagi ?” kata pria yang hobi membaca buku ini.

Kiprah Perusahaan
Kiprahnya pun dimulai dengan memperkenalkan CALL. Pengalaman bertahun-tahun di bidang teknologi pendidikan dan jejaring tingkat internasional, membuat pemerintah Indonesia, baik di level pusat maupun daerah menempatkan Indra sebagai konsultan dalam bidang pengembangan Pembelajaran Abad 21.

Usahanya tak sia-sia. Karena, dia terbilang berhasil dengan menempati posisi sebagai presiden direktur di usianya yang relatif muda. Namun, dia merasa tetap belum sukses.

“Menurut saya, sukses adalah sesuatu yang sangat subjektif. Saya belum merasa diri saya sukses, karena hasil karya saya belum sepenuhnya dirasakan manfaatnya. Namun, saya merasa beruntung dianugerahi penghasilan yang cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga,” tambahnya.

Dalam kiprah pelayanannya, Eduspec Indonesia membantu pengembangan sekolah-sekolah melalui program-program inovatif dan modern yang mengacu pada Pembelajaran Abad 21. Perusahaan yang dipimpinnya menjadi pelopor dalam mempromosikan pemanfaatan media dan integrasi teknologi informasi dan komunikasi.

“Integrasi teknologi informasi dan komunikasi ini juga sejalan dengan proses pembelajaran dalam Kurikulum 2013 yang mengintegrasikan science, technology, engineering, and math(STEM) dari mulai tingkat sekolah dasar,” katanya.

Sejak diakuisisi pada 2010, Eduspec Indonesia telah membantu lebih dari 500 institusi pendidikan, baik negeri maupun swasta, di Provinsi DKI Jakarta dan beberapa kota besar lainnya di Indonesia.

Euis Rita Hartati/AB

http://www.beritasatu.com/figur/282587-majukan-dunia-pendidikan.html

Pendidikan di Indonesia Baru Tahap Menghafal

Picture3
Direktur Utama PT Eduspec Indonesia, Indra Charismiadji (Istimewa)


Jujur, sumber daya manusia (SDM) yang mumpuni masih menjadi persoalan besar dan paling mendasar di Indonesia. Padahal, kualitas SDM akan menentukan mampu atau tidaknya para anak negeri mengolah sumber daya alam (SDA) menjadi produk bernilai tambah tinggi. Produk bernilai tambah tinggi itulah yang bakal membuat rakyat sejahtera dan mengantarkan Indonesia menjadi negara maju.

Adalah Indra Charismiadji yang merasa terusik dengan kondisi itu. Indra sadar betul bahwa kualitas SDM–selain dipengaruhi faktor budaya yang pada akhirnya memengaruhi pola pikir (mindset)–turut ditentukan faktor pendidikan formal. Itu pula yang kemudian menuntunnya terjun ke sektor pendidikan.

Indra Charismiadji boleh jadi merupakan satu dari sedikit orang yang memiliki idealisme dalam bisnis pendidikan di Tanah Air.

“Salah satu obsesi saya adalah menjadi bagian dari solusi dunia pendidikan Indonesia,” tutur Indra di Jakarta, akhir pekan lalu.

Mendapat tempaan dari keluarga untuk berjiwa mandiri sejak belia, ditambah pengalamannya menghadapi krisis ekonomi, Indra Charismiadji dalam usia relatif muda sudah dipercaya memimpin PT Eduspec Indonesia, bagian dari Eduspec International yang beroperasi di Malaysia, Singapura, Vietnam, Filipina, dan Tiongkok. Dalam dua tahun ke depan, Eduspec berencana mencatatkan sahamnya di bursa efek Hong Kong atau New York.

Bagaimana pandangan Indra tentang dunia pendidikan di Indonesia? Apa pula obsesinya ke depan? Apa yang dimaksud anak-anak muda di negeri ini baru dalam tahap menghafal? Berikut penuturan lengkap pria kelahiran 9 Maret 1976 tersebut.

Bagaimana perjalanan karier Anda?
Kalau bicara dunia kerja, sebenarnya saya sudah mulai bekerja sejak duduk di bangku SMA. Keluarga saya, walaupun mungkin berkecukupan, berupaya mendidik kami agar tidak manja. Jadi, sejak muda kami sudah diajari mencari uang sendiri. Sewaktu SMA, saya sudah menjalankan bisnis kecil-kecilan, mulai dari menjual kaos, hingga menjadi event organizer (EO).

Yang membanggakan, saya bersama teman-teman artis pada waktu itu, seperti Gugun Gondrong dan Lulu Tobing, menggelar acara fashion show di seluruh mal Matahari di Indonesia. Setelah itu, saya kuliah di Amerika Serikat (AS). Di sana, saya tetap bekerja sambil kuliah, walaupun orangtua masih mengirimi saya uang saku.

Cobaan terberat bagi saya terjadi saat krisis moneter 1997-1998. Saat itu, orangtua sudah tidak bisa lagi mengirim uang. Pilihannya saat itu kembali ke Indonesia atau bertahan. Karena kuliah saya setahun lagi selesai, akhirnya saya putuskan untuk bertahan di AS dan saya harus bekerja ekstra.

Akhirnya saya bisa menyelesaikan studi di University of Toledo, di Kota Toledo, negara bagian Ohio, AS, dengan gelar ganda di bidang keuangan dan pemasaran untuk jenjang strata satu. Saya juga melanjutkan studi ke jenjang lebih tinggi di Dana University, Kota Ottawa Lake, negara bagian Michigan, AS.

Pilihan saya waktu itu bekerja profesional, seperti pialang saham dan staf marketing. Saya bekerja di Merrill Lynch, Omnicare, dan Dana Holding Corporation. Setelah mapan di AS, hati saya terpanggil untuk bisa berbuat sesuatu bagi Tanah Air. Terus terang, berita tentang Indonesia saat itu tidak ada yang baik. Akhirnya saya putuskan untuk pulang ke Indonesia pada 2002, dengan membawa idelisme yang tinggi. Saya berpikir, kalau bukan orang Indonesia sendiri yang memperbaiki negara ini, lalu siapa lagi?

Yang Anda lakukan pertama kali di Indonesia?
Saat itu, yang saya pikirkan adalah membuat bisnis yang bisa membuka lapangan kerja bagi orang banyak. Lalu saya menerbitkan majalah yang mengupas masalah pendidikan, karenapassion saya memang di dunia pendidikan. Ternyata terjun di bisnis media massa memang sangat tidak mudah, apalagi mengambil segmen pendidikan. Masyarakat tampaknya lebih menggemari berita entertainment, gosip, dan sejenisnya.

Akhirnya bisnis tersebut hanya bertahan setahun, walaupun semua modal sudah dihabiskan, termasuk tabungan istri saya. Tapi itu tidak mematahkan semangat saya untuk tetap berjuang di bidang pendidikan. Akhirnya saya terjun langsung ke bisnis yang bersinggungan dengan sektor pendidikan.

Saya memulainya dari pelatihan berbasis bahasa Inggris yang ditawarkan secara door to door.Saya memperkenalkan CALL (computer-assisted language learning) untuk pertama kalinya. Pengalaman bertahun-tahun di bidang teknologi pendidikan dan jejaring tingkat internasional membuat pemerintah menempatkan saya sebagai konsultan di bidang pengembangan Pembelajaran Abad 21.

Saya kemudian bergabung dengan perusahaan Singapura. Saya sekarang memimpin PT Eduspec Indonesia yang merupakan bagian dari Eduspec International yang beroperasi di Malaysia, Singapura, Vietnam, Filipina, dan Tiongkok. Dalam dua tahun ke depan, perusahaan kami akan mencatatkan sahamnya di bursa efek, pilihannya di Hong Kong atau New York. Sekarang masih tahap persiapan.

Apa saja yang sudah dilakukan Eduspec Indonesia?
Dalam kiprah pelayanan, Eduspec Indonesia membantu pengembangan sekolah-sekolah melalui program-program inovatif dan modern yang mengacu pada Pembelajaran Abad 21. Kami menjadi pelopor dalam mempromosikan pemanfaatan media dan integrasi teknologi informasi dan komunikasi.

Integrasi teknologi informasi dan komunikasi ini juga sejalan dengan proses pembelajaran dalam Kurikulum 2013 yang mengintegrasikan STEM (science, technology, engineering and math) dari mulai tingkat sekolah dasar.

Sejak diakuisisi pada 2010, Eduspec Indonesia telah membantu lebih dari 500 institusi pendidikan, baik negeri maupun swasta, di Provinsi DKI Jakarta dan beberapa kota besar lainnya di Indonesia.

Mengapa bidang pendidikan begitu menarik perhatian Anda?
Saya memang lahir dari keluarga pendidik. Jadi, mungkin faktor genetik juga sangat kuat mengalir di tubuh saya. Kakek saya kepala sekolah, nenek saya guru. Ayah saya walaupun tentara tapi juga lebih banyak mengajar. Selain itu, melalui pendidikan, saya ingin kualitas SDM kita bisa menjadi lebih baik agar bangsa Indonesia mampu bersaing dengan tenaga kerja asing. Apalagi kita menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA).

Bagaimana Anda menilai kondisi dunia pendidikan di Indonesia saat ini?
Terus terang, kita masih tertinggal. Untuk bidang pendidikan, kita masih berada di urutan ke-69 dari 76 negara. Undang-undang (UU), bahkan konstitusi, mengamanatkan negara berperan dalam mencerdaskan bangsa. Cerdas di sini memiliki level, yakni menghafal, memahami, mengaplikasi, menganalisa, mengevaluasi, barulah tahap mencipta (inovasi).

Menurut pengamatan saya, anak didik kita mayoritas masih dalam tahap menghafal. Selain itu, kita juga punya pekerjaan rumah (PR) besar, yakni mengubah mindset anak didik, dari seorang yang manja menjadi seorang yang mandiri dan memiliki jiwa juang yang tinggi. Ini untuk mendorong lahirnya generasi yang kreatif dan mampu melahirkan inovasi-inovasi baru.

Gaya kepemimpinan seperti apa yang Anda terapkan di perusahaan?
Karena saya bergerak di bidang pendidikan dan concern pada masalah inovasi, gaya kepemimpinan yang mendidik dan inovatif itulah yang saya terapkan kepada karyawan. Saya tidak membiasakan diri untuk memberi perintah secara detail kepada mereka yang biasa juga disebut manajemen mikro. Saya selalu memberi challenge kepada mereka. Saya hanya sebutkan garis besar goal yang harus dicapai, mereka yang harus mencari jalan keluar. Bagi yang tidak terbiasa, gaya kepemimpinan saya ini aneh.

Anda punya kompetitor di bisnis ini?
Kompetitor saya sebenarnya bukan dari perusahaan luar negeri, melainkan dari dalam sendiri. Sejak perusahaan ini berdiri, mungkin sudah ada 15-20 perusahaan sejenis yang dibuat oleh mantan anak buah saya. Tapi saya meyakini kreativitas tidak akan pernah bisa dicuri karena dunia pendidikan ini terus berkembang. Terbukti perusahaan-perusahaan itu sudah gulung tikar, sebaliknya perusahaan saya terus berkembang.

Obsesi Anda ke depan?
Saya ingin menjadi bagian dari solusi dunia pendidikan di Indonesia. Dalam lima tahun ke depan, saya ingin menjadi yang terdepan di dalam negeri, menjadi mitra pemerintah dalam membangun dunia pendidikan di Indonesia. Dalam 10 tahun ke depan, saya ingin banyak anak bangsa yang bisa berkiprah di dunia internasional. Memang dalam dua tahun ke depan, perusahaan ini akanlisting di bursa saham asing, tapi fokus saya tetap memajukan dalam negeri terlebih dahulu.

Saya juga ingin agar lebih banyak lagi perusahaan yang peduli pada dunia pendidikan. Program-program corporate social responsibility (CSR) sebaiknya lebih banyak disalurkan ke bidang pendidikan. Mari kita bergandengan tangan untuk bersama-sama memajukan dunia pendidikan di Indonesia.

Peran keluarga selama ini?
Saya beruntung karena selalu mendapat dukungan penuh dari keluarga. Istri saya warga Filipina. Kami sama-sama perantau ketika di AS. Jadi, dia mengerti betul apa yang menjadipassion saya dan kesibukan saya selama ini. Sebagai kepala keluarga, saya juga ingin menjadi contoh yang baik bagi dua anak-anak saya. Meskipun sibuk, sedapat mungkin saya mengedepankan quality time bagi keluarga.

Euis Rita Hartati/AB

http://www.beritasatu.com/figur/307398-pendidikan-di-indonesia-baru-tahap-menghafal.html

Pendidikan Berbasis STEM Jawaban Tantangan Global

731446699418
Indra Charismiadji, President Director PT Eduspec Indonesia (Istimewa)

Jakarta – Perkembangan global yang amat pesat akibat kemajuan di bidang teknologi mengharuskan bangsa-bangsa di dunia mengubah sistem pendidikan mereka. Dalam beberapa tahun terakhir, negara-negara maju maupun negara berkembang, berupaya meningkatkan kualitas pendidikan dengan model Pembelajaran Tematik Terpadu (PTP) atau Integrated Thematic Instruction (ITI).

Pembelajaran ini berangkat dari pendekatan tematis sebagai acuan dasar bahan dan kegiatan pembelajaran di mana tema yang dibuat mengikat baik mata pelajaran tertentu maupun antarmata Pelajaran. Pembelajaran Tematik ini secara ilmiah telah menunjukkan keberhasilannya dalam memacu percepatan dan meningkatkan kapasitas memori peserta didik.

Untuk memacu prestasi pendidikan Indonesia, Eduspec Indonesia mengenalkan sistem pendidikan berbasis Science, Technology, Engineering and Mathematics atau STEM. Ini merupakan sebuah model pembelajaran yang populer di tingkat dunia yang efektif dalam menerapkan Pembelajaran Tematik Integratif karena menggabungkan empat bidang pokok dalam pendidikan yaitu ilmu pengetahuan, teknologi, matematika, dan enjinering.

Direktur Utama Eduspec Indonesia Indra Charismiadji mengatakan metode tersebut mengajak siswa untuk mengintegrasikan mata pelajaran dan mengkorelasikannya dengan kehidupan sehari-hari. Proses pembelajaran melibatkan tujuh keahlian utama bagi siswa abad 21, yaitu, kolaborasi, kreatif, berfikir kritis, komputerisasi, pemahaman budaya, dan mandiri dalam belajar dan berkarir.

“Perkembangan dunia pendidikan sangat cepat, karena itu Indonesia harus menyesuaikan kurikulum agar dapat bersaing di era global,” ungkap Indra di sela Simposium Nasional guru dan Tenaga Kependidikan 2015 di Istora Senayan, Jakarta, Senin (23/11).

Indra menjelaskan, STEM sebuah keharusan dalam mempersiapkan anak didik menghadapi dunia nyata yang penuh masalah agar siap dalam persaingan global. Sebab, Science, technology, engineering, and mathematics adalah mata pelajaran yang saling berkaitan dalam kehidupan nyata manusia. Keempat bidang itu, saling kait mengait dan tak bisa berdiri sendiri. Namun, selama ini keempatnya dipelajari terpisah-pisah, jadi seolah-olah hanya bisa dipahami secara teori saja. Padahal, keempat bidng studi itu wajib dikuasai oleh anak didik supaya mereka bisa memecahkan masalah dalam dunia kerja, masyarakat, dan dalam semua aspek kehidupan.

“Saat ini, negara-negara yang menggunakan metode itu antara lain Finlandia, Amerika, dan Australia sejak 10 tahun lalu. Menyusul Vietnam, Tiongkok, Malaysia, Filipina,” ujar dia.

Menurut Indra, pihaknya sudah menyiapkan materi kurikulum STEM untuk sekolah-sekolah di Indonesia, mulai dari jenjang pendidikan dasar hingga menengah atas. Ia juga mengklaim kurikulum tersebut juga mengajarkan anak didik tentang computational thinking, bukan sekadar belajar menekan tombol, tetapi belajar memecahkan masalah dengan teknologi. Kurikulum ini kelak akan terintegrasi dengan sistem pendidikan (Sistem Aplikasi Belajar Aktif Elektronik) dalam mengembangkan pendidikan modern yang efektif dan efisien pendidikan berbasis teknologi.

“Indonesia harus menyadari bahwa dunia pendidikan sangat berubah, dengan kertas, kapur, dan lain-lain. Anak juga harus bawa banyak buku. Jadi, yang tadinya banyak buku sudah ada dalam komputer dalam satu kit, dengan e-Sabak, itu semua isi alat yang hanya sebesar satu buku,” tutup Indra.

Feriawan Hidayat/Indah Handayani/PCN

http://www.beritasatu.com/kesra/324186-pendidikan-berbasis-stem-jawaban-tantangan-global.html