Sekolah Diminta Ajarkan Computational Thinking untuk Menangkan Persaingan

pengamat-pendidikan-indra-charismiadji-saat-seminar-nasional-pendidikan-saat-_160426150747-366

Pengamat Pendidikan Indra Charismiadji. (Republika / Rakhmawaty La’la

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Sistem pendidikan di Indonesia saat ini dinilai belum mampu menjawab tantangan masa depan yang penuh persaingan. Pengamat Pendidikan Indra Charismiadji mengatakan Indonesia harus menyadari dunia pendidikan sangat berubah.

Indra berkata salah satu cara mengejar ketertinggalan pendidikan Indonesia adalah dengan menerapkan STEM (Science, Technology, Engineering and Math). Sebuah model pembelajaran yang menerapkan pembelajaran tematik integratif karena menggabungkan empat bidang pokok dalam pendidikan, yaitu ilmu pengetahuan, teknologi, matematika, dan engineering.

Metode STEM mengajak siswa untuk mengintegrasikan mata pelajaran dan mengkorelasikannya dengan kehidupan sehari-hari. Proses pembelajaran melibatkan tujuh keahlian utama bagi siswa abad 21, yaitu, kolaborasi, kreatif, berpikir kritis, komputerisasi, pemahaman budaya, dan mandiri dalam belajar serta berkarier.

“Materi kurikulum STEM mengajarkan anak didik tentangcomputational thinking, bukan sekadar belajar menekan tombol melainkan belajar memecahkan masalah dengan teknologi atau berpikir layaknya komputer. Sekolah perlu mengajarkan anakcomputational thinking untuk memenangkan persaingan,” kata Indra.

Pendidikan di Indonesia kian mengalami perubahan. Dulu dengan kertas, kapur, dan buku, kini harus mampu menyesuaikan teknologi seperti komputer.

“Sekolah yang menerapkan keterampilan computational thinking akan menjadi barometer bagi sekolah lain dan mampu bersaing dan menjadi pemimpin dalam penerapan pembelajaran abad 21,” ujar Indra.

Sementara Head of Student Life Sampoerna University, Eddy Henry mengatakan, computational thinking merupakan sebuah pendekatan yang diyakini dapat menjadi salah satu solusi dalam menjawab tantangan masa depan, dengan lebih cermat dan terukur. Sampoerna Academy dan Sampoerna University telah mengimplementasikan Pendidikan Abad 21 melalui pendekatan STEAM yang yang mengedepankan computational thinking.

“Pendekatan ini sudah diperkenalkan sejak taman kanak-kanak dan tingkat sekolah dasar, melalui pengajaran dan permainan yang mendorong mereka untuk mampu memecahkan masalah sederhana. Pada tingkat pendidikan menengah, hingga perguruan tinggi, siswa akan diberikan tingkat pemecahan permasalahan yang lebih kompleks.”

Mereka juga diperkenalkan bagaimana memanfaatkan alat bantu seperti komputer dan perangkat digital sesuai tujuannya.Computational thinking mampu menyiapkan para siswa untuk menghadapi kebutuhan kerja di masa depan dan meraih kesuksesan di era globalisasi.

Sumber : http://www.republika.co.id/berita/pendidikan/eduaction/16/10/13/oezarm359-sekolah-diminta-ajarkan-computational-thinking-untuk-menangkan-persaingan

Kata Pakar, Ini yang Dibutuhkan Siswa Abad 21

dsc_0571Pakar Pendidikan Abad 21, Indra Charismiadji (kiri) saat dalam seminar Computational Thinking, A Global Trend in Education, di Jakarta, Kamis (13/10). FOTO: Mesya/JPNN.com

JAKARTA – Pakar Pendidikan Abad 21, Indra Charismiadji menyatakan sistem pendidikan di Indonesia saat ini belum mampu menjawab tantangan masa depan yang penuh persaingan dan semakin kompleks. Dari berbagai survei yang dilakukan lembaga-lembaga krediibel dunia, Indonesia masih menempati urutan bawah.

“Perkembangan dunia pendidikan sangat cepat, karena itu Indonesia harus menyesuaikan kurikulum agar bisa bersaing di era global. Sekolah harus mampu menyiapkan anak didik menghadapi dunia nyata yang penuh masalah agar siap dalam persaingan global,” kata Indra dalam seminar Computational Thinking, A Global Trend in Education, di Jakarta, Kamis (13/10).

Salah satu cara mengejar ketertinggalan pendidikan Indonesia adalah dengan menerapkan STEM (Science, Technology, Engineering and Math). Metode  pembelajaran populer di dunia‎ ini menerapkan pembelajaran tematik integratif karena menggabungkan empat bidang pokok dalam pendidikan, yaitu ilmu pengetahuan, teknologi, matematikan, dan enjinering.

“Metode STEM, mengajak siswa untuk mengintegrasikan mata pelajaran dan mengkorelasikannya dengan kehidupan sehari-hari. Proses pembelajarannya melibatkan tujuh keahlian utama bagi siswa abad 21, yaitu kolaborasi, kreatif, berpikir kritis, komputerisasi, penghematan budaya, dan mandiri dalam belajar serta berkarir,” papar pria yang aktif di organisasi Dewan Pakar di Asosiasi Guru TIK/KKPI Indonesia (AGTIFINDO).

Indra menambahkan, saat ini materi kurikulum STEM telah dipersiapkan untuk sekolah-sekolah dalam negeri. Kurikulum tersebut mengajarkan anak didik tentang computational thinking. Artinya belajar bukan sekadar menekan tombol, melainkan belajar memecahkan masalah dengan teknologi atau berpikir layaknya komputer.

Sementara Head of Student Life Sampoerna University Eddy Henry mengatakan, Cumputatational thinking merupakan suatu pendekatan yang bisa menjadi salah satu soulusi dalam menjawab tantangan masa depan, dengan lebih cermat dan terukur. Sampoerna Academy dan Sampoerna University telah mengimplementasikan pendidikan abad 21 melalui pendekatan science, technology, engineering, arts dan math (STEAM) yang mengedepankan computational thinking.

“Pendekatan ini sudah diperkenalkan sejak TK dan SD melalui pengajaran maupun permainan yang mendorong mereka untuk mampu memecahkan masalah sederhana,” tandas Eddy.(esy/jpnn)

Sumber : http://www.jpnn.com/read/2016/10/13/474054/Kata-Pakar-Ini-yang-Dibutuhkan-Siswa-Abad-21-

Anggaran Pendidikan Belum Berhasil Tingkatkan Mutu

123-2

JAKARTA, suaramerdeka.com – Anggaran negara yang dialokasikan untuk sektor pendidikan dinilai belum dikelola secara maksimal. Salah satu faktanya adalah belum dapat memajukan mutu pendidikan secara merata di seluruh wilayah Indonesia.

“Sudah banyak kajian terkait penggunaan anggaran pendidikan, termasuk dari Bank Dunia. Di mana anggaran pendidikan kita belum bisa memperbaiki mutu pendidikan, padahal anggarannya besar,” ujar pengamat pendidikan Indra Charismiadji, saat seminar dan workshop bertema “Kenali Trend Pendidikan Abad 21″, di Jakarta.

Menurutnya, salah satu hal yang menyebabkan anggaran pendidikan belum dapat memberikan hasil positif karena pemerintah tidak memiliki konsep besar dan arah pendidikan nasional. “Ini dikarenakan belum ada grand desain pendidikan kita ini mau dibawa ke mana. Seperti membangun rumah, mau membuat kamar mandi jadinya justru taman. Oleh karena itu kita butuh grand desain pendidikan,” katanya.

Dikatakan, disebabkan tidak memiliki grand desain pendidikan, maka anggaran pendidikan tidak dapat dialokasikan untuk menunjang peningkatan mutu pendidikan.  “Maka kenyataannya, yang penting anggaran itu terserap, entah menujang mutu atau tidak. Program yang dijalankan hanya copy paste. Yang menjadi ironis, kita sudah menghabiskan uang triliunan tapi hasil mutu pendidikannya tidak tampak,” tegas Indra.

Untuk itu, sambung dia, pihaknya berharap kepada pemerintah untuk mau melakukan kolaborasi dengan pihak-pihak yang memiliki konsep dan komitmen guna meningkatkan pendidikan Indonesia. “Perubahan pendidikan itu bukan hanya pekerjaan rumah pemerintah saja, tapi kita juga harus berperan memberikan masukan untuk mempersiapkan anak-anak menjawab tantangan dunia,” tandasnya.

Sementara itu, Student Life Director Sampoerna School System, Eddy Hendry mengatakan bahwa salah poin penting dalam meningkatkan mutu pendidikan adalah kualitas dari para pengajar. Untuk itu diharapkan para guru mau terus mengembangkan diri, apalagi di tengah kemajuan teknologi yang semakin berkembang.

“Kita dorong untuk guru mau terus belajar dan mengembangkan dirinya. Yang dibutuhkan sekarang bukan lagi kebijakan, tapi budaya belajar dari para guru,” katanya.

(Satrio Wicaksono / CN26 / SM Network)

Sumber : http://berita.suaramerdeka.com/anggaran-pendidikan-belum-berhasil-tingkatkan-mutu/

Biar Bisa Bersaing, Siswa Abad 21 Harus Kuasai STEM

pendidikan-abad-21
Pakar Pendidikan Abad 21, Indra Charismiadji (kiri) saat dalam seminar Computational Thinking, A Global Trend in Education, di Jakarta, Kamis (13/10). FOTO: Mesya/JPNN.com

POJOKSATU.id, JAKARTA – Pakar Pendidikan Abad 21, Indra Charismiadji menyatakan sistem pendidikan di Indonesia saat ini belum mampu menjawab tantangan masa depan yang penuh persaingan dan semakin kompleks. Dari berbagai survei yang dilakukan lembaga-lembaga krediibel dunia, Indonesia masih menempati urutan bawah.

“Perkembangan dunia pendidikan sangat cepat, karena itu Indonesia harus menyesuaikan kurikulum agar bisa bersaing di era global. Sekolah harus mampu menyiapkan anak didik menghadapi dunia nyata yang penuh masalah agar siap dalam persaingan global,” kata Indra dalam seminar Computational Thinking, A Global Trend in Education, di Jakarta, Kamis (13/10).

Salah satu cara mengejar ketertinggalan pendidikan Indonesia adalah dengan menerapkan STEM (Science, Technology, Engineering and Math). Metode  pembelajaran populer di dunia‎ ini menerapkan pembelajaran tematik integratif karena menggabungkan empat bidang pokok dalam pendidikan, yaitu ilmu pengetahuan, teknologi, matematikan, dan enjinering.

“Metode STEM, mengajak siswa untuk mengintegrasikan mata pelajaran dan mengkorelasikannya dengan kehidupan sehari-hari. Proses pembelajarannya melibatkan tujuh keahlian utama bagi siswa abad 21, yaitu kolaborasi, kreatif, berpikir kritis, komputerisasi, penghematan budaya, dan mandiri dalam belajar serta berkarir,” papar pria yang aktif di organisasi Dewan Pakar di Asosiasi Guru TIK/KKPI Indonesia (AGTIFINDO).

Indra menambahkan, saat ini materi kurikulum STEM telah dipersiapkan untuk sekolah-sekolah dalam negeri. Kurikulum tersebut mengajarkan anak didik tentang computational thinking. Artinya belajar bukan sekadar menekan tombol, melainkan belajar memecahkan masalah dengan teknologi atau berpikir layaknya komputer.

Sementara Head of Student Life Sampoerna University Eddy Henry mengatakan, Cumputatational thinking merupakan suatu pendekatan yang bisa menjadi salah satu soulusi dalam menjawab tantangan masa depan, dengan lebih cermat dan terukur. Sampoerna Academy dan Sampoerna University telah mengimplementasikan pendidikan abad 21 melalui pendekatan science, technology, engineering, arts dan math (STEAM) yang mengedepankan computational thinking.

“Pendekatan ini sudah diperkenalkan sejak TK dan SD melalui pengajaran maupun permainan yang mendorong mereka untuk mampu memecahkan masalah sederhana,” tandas Eddy.

Sumber : http://pojoksatu.id/pendidikan/2016/10/13/biar-bersaing-siswa-abad-21-harus-kuasai-stem/2/

 

Computational Thinking Perlu Diterapkan dalam Pendidikan

1476376413_kemek

SISTEM pendidikan di Indonesia saat ini belum mampu menjawab tantangan masa depan yang penuh persaingan dan semakin kompleks. Dari berbagai survei yang dilakukan lembaga-lembaga kredibel dunia, Indonesia masih menempati urutan bawah.

Hal ini disampaikan pakar pendidikan Indra Charismiadji dalam seminar ‘Computational Thinking, A Global Trend in Education- Seminar and Workshop for School Leaders’, Kamis (13/10).

“Perkembangan dunia pendidikan sangat cepat, karena itu Indonesia harus menyesuaikan kurikulum agar dapat bersaing di era global. Sekolah harus mampu mempersiapkan anak didik menghadapi dunia nyata yang penuh masalah agar siap dalam persaingan global,” kata Indra.

Salah satu cara mengatasi ketertinggalan pendidikan Indonesia ialah dengan menerapkan STEM (Science, Technology, Engineering, and Math), sebuah model pembelajaran populer di dunia yang efektif dalam menerapkan pembelajaran tematik integratif karena menggabungkan empat bidang pokok dalam pendidikan, yaitu ilmu pengetahuan, teknologi, matematika, dan enjinering.

Metode STEM, dipaparkan Indra, mengajak siswa untuk mengintegrasikan mata pelajaran dan menghubungkannya dengan kehidupan sehari-hari. Proses pembelajaran melibatkan tujuh keahlian utama bagi siswa abad 21, yaitu, kolaborasi, kreatif, berpikir kritis, komputerisasi, pemahaman budaya, dan mandiri dalam belajar serta berkarier.

Indra menjelaskan, saat ini materi kurikulum STEM telah dipersiapkan untuk di sekolah-sekolah dalam negeri. Kurikulum tersebut mengajarkan anak didik tentang ‘computational thinking‘.

“Artinya, bukan sekadar belajar menekan tombol, melainkan belajar memecahkan masalah dengan teknologi, atau berpikir layaknya komputer,” ujar pria yang aktif di organisasi Dewan Pakar di Asosiasi Guru TIK/KKPI Indonesia.

“Indonesia harus menyadari bahwa dunia pendidikan sangat berubah. Yang tadinya dengan kertas, kapur, dan buku, kini harus mampu menyesuaikan teknologi,” jelasnya.

Sumber : http://mediaindonesia.com/news/read/72087/pengamat-computational-thinking-perlu-diterapkan-dalam-pendidikan/2016-10-13