Eduspec Realisasikan Program “SMK IT Learning Center”

1431714636
Eduspec Indonesia menjalin kerjasama dengan Dinas Pendidikan Provinsi Banten untuk bidang pendidikan.


Banten – Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) sebagai salah satu lembaga pendidikan yang menyiapkan peserta didik dengan ilmu pengetahuan dan teknologi agar mampu mengembangkan diri sesuai kompetensi, memiliki peran strategis di Indonesia. Lulusan SMK yang memililiki daya kompetitif dan adaptif di lingkungan kerja maupun berwirausaha, menjadi salah satu modal membangun bangsa.

Untuk membantu meningkatkan keahlian dan kompetensi pelajar SMK di Provinsi Banten, Dinas Pendidikan menandatangani kesepakatan kerjasama (MOU) dengan PT Eduspec Indonesia. Kerjasama ini untuk merealisasikan program SMK IT Learning Center.

Hadir dalam acara ini Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Banten, H Engkos Kosasih Samanhudi, S.Pd, MM, M.Si, para Kepala SMK negeri dan swasta, Microsoft, serta Direktur Utama PT Eduspec Indonesia, Indra Charismiadji.

SMK IT Learning Center merupakan program kerjasama dengan Microsoft untuk sertifikasi Microsoft kepada siswa-siswi dan guru SMK. Akan tetapi tidak menutup kemungkinan untuk melakukan ujian dan pelatihan sertifikasi pada komunitas sekitar.

Program ini sebagaimana dicanangkan oleh Direktorat SMK yang mana menginginkan adanya sebuah project yang berkesinambunang. Melalui program SMK IT Learning Center ini, siswa-siswi di sekolah dapat belajar menggunakan kurikulum IT Academy yang mana akan membekali mereka untuk menjadi tenaga ahli, antara lain dalam bidang IT dan manajemen perkantoran.

SMK tersebut juga akan menjadi pusat pelatihan dan sertifikasi bagi masyarakat sekitar yang mana dapat semakin meningkatkan kualitas tenaga ahli di Indonesia untuk dapat bersaing dalam Masyarakat Ekonomi Global yang dimulai pada akhir tahun ini, 2015.

Pada kesempatan tersebut, PT Eduspec juga mengenalkan inovasi terbaru mereka yaitu e-SABAK (Sistem Aplikasi Belajar Aktif dan Kreatif elektronik) yang memanfaatkan teknologi SABAK atau tablet dengan aplikasi pembelajaran yang kreatif dan interaktif dari Intel (Intel Education Software).

Dampak positif dalam pembelajaran dan pengajaran melalui SABAK antara lain adalah memungkinkan siswa untuk meningkatkan kecanggihan aktivitas belajar secara online, meningkatkan antusias belajar siswa, memberi peluang bagi guru untuk meningkatkan produktivitas, sekaligus menciptakan suasana belajar yang baru.

Termasuk didalam e-SABAK adalah troli penyimpan tablet yang sudah termasuk sistem charging untuk tablet tersebut, tablet untuk siswa dan guru, proyektor, wireless display, router, headset dan UPS untuk cadangan daya bagi router. Perangkat lunak yang disediakan antara lain; Intel Education Lab Camera, Intel Education Media Camera, ArtRage, SPARKVue, dan lain sebagainya.

Perangkat lunak tersebut dapat digunakan dalam proses pembelajaran untuk semua mata pelajaran, antara lain TIK, Matematika, Fisika, Biologi, Bahasa, dan lain sebagainya. Termasuk pula di dalam paket ini adalah kurikulum yang sudah disesuaikan dengan kurikulum sekolah, serta pendampingan selama masa transisi mengajar menggunakan teknologi bagi guru-guru di sekolah.

Feriawan Hidayat/FER

http://www.beritasatu.com/kesra/274367-eduspec-realisasikan-program-smk-it-learning-center.html

Majukan Dunia Pendidikan

Picture3
Direktur Utama PT Eduspec Indonesia, Indra Charismiadji (Istimewa)


Lahir dari keluarga pendidik, Indra Charismiaji merasa bahwa faktor genetik sangat kuat mengalir di tubuhnya yang sangat menyukai dunia pedidikan. Tak heran, Direktur Utama PT Eduspec Indonesia ini terus berinovasi untuk melahirkan sesuatu yang bermanfaat guna memajukan dunia pendidikan.

“Memang sejak dari kecil, passion saya ada di dunia pendidikan. Jadi, walaupun saya terjun di dunia bisnis, tetap terkait dengan dunia pendidikan,” kata Indra di Jakarta, belum lama ini.

Menurutnya, di bidang pendidikan, tanpa idealisme tidak akan ada solusi yang bisa jalan. “Dunia pendidikan sangat berbeda dengan dunia perdagangan, atau pun jual-beli pendidikan lebih bersifat jangka panjang dan sangat abstrak. Tidak semua orang bisa terjun di dunia ini,” jelasnya.

Indra menyelesaikan studi dari the University of Toledo, negara bagian Ohio, Amerika Serikat, dengan gelar ganda di bidang keuangan dan pemasaran untuk jenjang strata satu. Lalu, dia melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi di Dana University, Ottawa Lake, negara bagian Michigan, Amerika Serikat.

Dengan berbekal pengalaman bekerja di beberapa perusahaan tingkat dunia di Amerika Serikat, antara lain Merril Lynch, Omnicare, dan Dana Corporation, tahun 2002, Indra memutuskan untuk kembali ke Tanah Air. Kemudian, dia memilih berperan aktif dalam mengembangkan kualitas pendidikan di Indonesia.

Kiprahnya dimulai dengan memperkenalkan CALL (computer-assisted language learning) untuk pertama kalinya. Pengalaman bertahun-tahun di bidang teknologi pendidikan dan jejaring tingkat internasional, membuat Pemerintah Indonesia baik di level pusat maupun daerah menempatkan Indra sebagai konsultan dalam bidang pengembangan Pembelajaran Abad 21.

Kini, Indra pun memimpin PT Eduspec Indonesia, yang merupakan bagian dari Eduspec International, yang juga beroperasi di Malaysia, Singapura, Vietnam, Filipina, dan Tiongkok. Dia pun memiliki pengalaman yang unik saat memutuskan kembali ke Indonesia, setelah memiliki karier yang cemerlang di Amerika Serikat.

“Di koran-koran dan televisi, saya selalu membaca, melihat, dan mendengar bahwa Indonesia sangat banyak masalah. Itu yang mendorong saya pulang ke Indonesia,” katanya.

Padahal, Indra saat itu sudah hidup cukup mapan bersama keluarganya di Amerika. Tapi, hal itu dia tinggalkan semua demi mewujudkan cita-citanya memperbaiki sistem pendidikan di Indonesia. Tak bisa dimungkiri, banyak teman yang sudah hidup nyaman di Amerika mencegahnya pulang.

“Bodoh kalau pulang ke Indonesia dalam kondisi yang masih kacau. Nanti saja, kalau sudah bagus, kita kembali,” katanya, menirukan saran teman-temannya.

Tapi, karena dorongan hati yang demikian kuat, ayah dua anak ni berani meninggalkan gaji sekitar Rp 500 juta per bulan untuk memulai dari nol di negaranya sendiri. “Kalau bukan orang Indonesia sendiri yang memperbaiki, lalu siapa lagi ?” kata pria yang hobi membaca buku ini.

Kiprah Perusahaan
Kiprahnya pun dimulai dengan memperkenalkan CALL. Pengalaman bertahun-tahun di bidang teknologi pendidikan dan jejaring tingkat internasional, membuat pemerintah Indonesia, baik di level pusat maupun daerah menempatkan Indra sebagai konsultan dalam bidang pengembangan Pembelajaran Abad 21.

Usahanya tak sia-sia. Karena, dia terbilang berhasil dengan menempati posisi sebagai presiden direktur di usianya yang relatif muda. Namun, dia merasa tetap belum sukses.

“Menurut saya, sukses adalah sesuatu yang sangat subjektif. Saya belum merasa diri saya sukses, karena hasil karya saya belum sepenuhnya dirasakan manfaatnya. Namun, saya merasa beruntung dianugerahi penghasilan yang cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga,” tambahnya.

Dalam kiprah pelayanannya, Eduspec Indonesia membantu pengembangan sekolah-sekolah melalui program-program inovatif dan modern yang mengacu pada Pembelajaran Abad 21. Perusahaan yang dipimpinnya menjadi pelopor dalam mempromosikan pemanfaatan media dan integrasi teknologi informasi dan komunikasi.

“Integrasi teknologi informasi dan komunikasi ini juga sejalan dengan proses pembelajaran dalam Kurikulum 2013 yang mengintegrasikan science, technology, engineering, and math(STEM) dari mulai tingkat sekolah dasar,” katanya.

Sejak diakuisisi pada 2010, Eduspec Indonesia telah membantu lebih dari 500 institusi pendidikan, baik negeri maupun swasta, di Provinsi DKI Jakarta dan beberapa kota besar lainnya di Indonesia.

Euis Rita Hartati/AB

http://www.beritasatu.com/figur/282587-majukan-dunia-pendidikan.html

Pendidikan di Indonesia Baru Tahap Menghafal

Picture3
Direktur Utama PT Eduspec Indonesia, Indra Charismiadji (Istimewa)


Jujur, sumber daya manusia (SDM) yang mumpuni masih menjadi persoalan besar dan paling mendasar di Indonesia. Padahal, kualitas SDM akan menentukan mampu atau tidaknya para anak negeri mengolah sumber daya alam (SDA) menjadi produk bernilai tambah tinggi. Produk bernilai tambah tinggi itulah yang bakal membuat rakyat sejahtera dan mengantarkan Indonesia menjadi negara maju.

Adalah Indra Charismiadji yang merasa terusik dengan kondisi itu. Indra sadar betul bahwa kualitas SDM–selain dipengaruhi faktor budaya yang pada akhirnya memengaruhi pola pikir (mindset)–turut ditentukan faktor pendidikan formal. Itu pula yang kemudian menuntunnya terjun ke sektor pendidikan.

Indra Charismiadji boleh jadi merupakan satu dari sedikit orang yang memiliki idealisme dalam bisnis pendidikan di Tanah Air.

“Salah satu obsesi saya adalah menjadi bagian dari solusi dunia pendidikan Indonesia,” tutur Indra di Jakarta, akhir pekan lalu.

Mendapat tempaan dari keluarga untuk berjiwa mandiri sejak belia, ditambah pengalamannya menghadapi krisis ekonomi, Indra Charismiadji dalam usia relatif muda sudah dipercaya memimpin PT Eduspec Indonesia, bagian dari Eduspec International yang beroperasi di Malaysia, Singapura, Vietnam, Filipina, dan Tiongkok. Dalam dua tahun ke depan, Eduspec berencana mencatatkan sahamnya di bursa efek Hong Kong atau New York.

Bagaimana pandangan Indra tentang dunia pendidikan di Indonesia? Apa pula obsesinya ke depan? Apa yang dimaksud anak-anak muda di negeri ini baru dalam tahap menghafal? Berikut penuturan lengkap pria kelahiran 9 Maret 1976 tersebut.

Bagaimana perjalanan karier Anda?
Kalau bicara dunia kerja, sebenarnya saya sudah mulai bekerja sejak duduk di bangku SMA. Keluarga saya, walaupun mungkin berkecukupan, berupaya mendidik kami agar tidak manja. Jadi, sejak muda kami sudah diajari mencari uang sendiri. Sewaktu SMA, saya sudah menjalankan bisnis kecil-kecilan, mulai dari menjual kaos, hingga menjadi event organizer (EO).

Yang membanggakan, saya bersama teman-teman artis pada waktu itu, seperti Gugun Gondrong dan Lulu Tobing, menggelar acara fashion show di seluruh mal Matahari di Indonesia. Setelah itu, saya kuliah di Amerika Serikat (AS). Di sana, saya tetap bekerja sambil kuliah, walaupun orangtua masih mengirimi saya uang saku.

Cobaan terberat bagi saya terjadi saat krisis moneter 1997-1998. Saat itu, orangtua sudah tidak bisa lagi mengirim uang. Pilihannya saat itu kembali ke Indonesia atau bertahan. Karena kuliah saya setahun lagi selesai, akhirnya saya putuskan untuk bertahan di AS dan saya harus bekerja ekstra.

Akhirnya saya bisa menyelesaikan studi di University of Toledo, di Kota Toledo, negara bagian Ohio, AS, dengan gelar ganda di bidang keuangan dan pemasaran untuk jenjang strata satu. Saya juga melanjutkan studi ke jenjang lebih tinggi di Dana University, Kota Ottawa Lake, negara bagian Michigan, AS.

Pilihan saya waktu itu bekerja profesional, seperti pialang saham dan staf marketing. Saya bekerja di Merrill Lynch, Omnicare, dan Dana Holding Corporation. Setelah mapan di AS, hati saya terpanggil untuk bisa berbuat sesuatu bagi Tanah Air. Terus terang, berita tentang Indonesia saat itu tidak ada yang baik. Akhirnya saya putuskan untuk pulang ke Indonesia pada 2002, dengan membawa idelisme yang tinggi. Saya berpikir, kalau bukan orang Indonesia sendiri yang memperbaiki negara ini, lalu siapa lagi?

Yang Anda lakukan pertama kali di Indonesia?
Saat itu, yang saya pikirkan adalah membuat bisnis yang bisa membuka lapangan kerja bagi orang banyak. Lalu saya menerbitkan majalah yang mengupas masalah pendidikan, karenapassion saya memang di dunia pendidikan. Ternyata terjun di bisnis media massa memang sangat tidak mudah, apalagi mengambil segmen pendidikan. Masyarakat tampaknya lebih menggemari berita entertainment, gosip, dan sejenisnya.

Akhirnya bisnis tersebut hanya bertahan setahun, walaupun semua modal sudah dihabiskan, termasuk tabungan istri saya. Tapi itu tidak mematahkan semangat saya untuk tetap berjuang di bidang pendidikan. Akhirnya saya terjun langsung ke bisnis yang bersinggungan dengan sektor pendidikan.

Saya memulainya dari pelatihan berbasis bahasa Inggris yang ditawarkan secara door to door.Saya memperkenalkan CALL (computer-assisted language learning) untuk pertama kalinya. Pengalaman bertahun-tahun di bidang teknologi pendidikan dan jejaring tingkat internasional membuat pemerintah menempatkan saya sebagai konsultan di bidang pengembangan Pembelajaran Abad 21.

Saya kemudian bergabung dengan perusahaan Singapura. Saya sekarang memimpin PT Eduspec Indonesia yang merupakan bagian dari Eduspec International yang beroperasi di Malaysia, Singapura, Vietnam, Filipina, dan Tiongkok. Dalam dua tahun ke depan, perusahaan kami akan mencatatkan sahamnya di bursa efek, pilihannya di Hong Kong atau New York. Sekarang masih tahap persiapan.

Apa saja yang sudah dilakukan Eduspec Indonesia?
Dalam kiprah pelayanan, Eduspec Indonesia membantu pengembangan sekolah-sekolah melalui program-program inovatif dan modern yang mengacu pada Pembelajaran Abad 21. Kami menjadi pelopor dalam mempromosikan pemanfaatan media dan integrasi teknologi informasi dan komunikasi.

Integrasi teknologi informasi dan komunikasi ini juga sejalan dengan proses pembelajaran dalam Kurikulum 2013 yang mengintegrasikan STEM (science, technology, engineering and math) dari mulai tingkat sekolah dasar.

Sejak diakuisisi pada 2010, Eduspec Indonesia telah membantu lebih dari 500 institusi pendidikan, baik negeri maupun swasta, di Provinsi DKI Jakarta dan beberapa kota besar lainnya di Indonesia.

Mengapa bidang pendidikan begitu menarik perhatian Anda?
Saya memang lahir dari keluarga pendidik. Jadi, mungkin faktor genetik juga sangat kuat mengalir di tubuh saya. Kakek saya kepala sekolah, nenek saya guru. Ayah saya walaupun tentara tapi juga lebih banyak mengajar. Selain itu, melalui pendidikan, saya ingin kualitas SDM kita bisa menjadi lebih baik agar bangsa Indonesia mampu bersaing dengan tenaga kerja asing. Apalagi kita menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA).

Bagaimana Anda menilai kondisi dunia pendidikan di Indonesia saat ini?
Terus terang, kita masih tertinggal. Untuk bidang pendidikan, kita masih berada di urutan ke-69 dari 76 negara. Undang-undang (UU), bahkan konstitusi, mengamanatkan negara berperan dalam mencerdaskan bangsa. Cerdas di sini memiliki level, yakni menghafal, memahami, mengaplikasi, menganalisa, mengevaluasi, barulah tahap mencipta (inovasi).

Menurut pengamatan saya, anak didik kita mayoritas masih dalam tahap menghafal. Selain itu, kita juga punya pekerjaan rumah (PR) besar, yakni mengubah mindset anak didik, dari seorang yang manja menjadi seorang yang mandiri dan memiliki jiwa juang yang tinggi. Ini untuk mendorong lahirnya generasi yang kreatif dan mampu melahirkan inovasi-inovasi baru.

Gaya kepemimpinan seperti apa yang Anda terapkan di perusahaan?
Karena saya bergerak di bidang pendidikan dan concern pada masalah inovasi, gaya kepemimpinan yang mendidik dan inovatif itulah yang saya terapkan kepada karyawan. Saya tidak membiasakan diri untuk memberi perintah secara detail kepada mereka yang biasa juga disebut manajemen mikro. Saya selalu memberi challenge kepada mereka. Saya hanya sebutkan garis besar goal yang harus dicapai, mereka yang harus mencari jalan keluar. Bagi yang tidak terbiasa, gaya kepemimpinan saya ini aneh.

Anda punya kompetitor di bisnis ini?
Kompetitor saya sebenarnya bukan dari perusahaan luar negeri, melainkan dari dalam sendiri. Sejak perusahaan ini berdiri, mungkin sudah ada 15-20 perusahaan sejenis yang dibuat oleh mantan anak buah saya. Tapi saya meyakini kreativitas tidak akan pernah bisa dicuri karena dunia pendidikan ini terus berkembang. Terbukti perusahaan-perusahaan itu sudah gulung tikar, sebaliknya perusahaan saya terus berkembang.

Obsesi Anda ke depan?
Saya ingin menjadi bagian dari solusi dunia pendidikan di Indonesia. Dalam lima tahun ke depan, saya ingin menjadi yang terdepan di dalam negeri, menjadi mitra pemerintah dalam membangun dunia pendidikan di Indonesia. Dalam 10 tahun ke depan, saya ingin banyak anak bangsa yang bisa berkiprah di dunia internasional. Memang dalam dua tahun ke depan, perusahaan ini akanlisting di bursa saham asing, tapi fokus saya tetap memajukan dalam negeri terlebih dahulu.

Saya juga ingin agar lebih banyak lagi perusahaan yang peduli pada dunia pendidikan. Program-program corporate social responsibility (CSR) sebaiknya lebih banyak disalurkan ke bidang pendidikan. Mari kita bergandengan tangan untuk bersama-sama memajukan dunia pendidikan di Indonesia.

Peran keluarga selama ini?
Saya beruntung karena selalu mendapat dukungan penuh dari keluarga. Istri saya warga Filipina. Kami sama-sama perantau ketika di AS. Jadi, dia mengerti betul apa yang menjadipassion saya dan kesibukan saya selama ini. Sebagai kepala keluarga, saya juga ingin menjadi contoh yang baik bagi dua anak-anak saya. Meskipun sibuk, sedapat mungkin saya mengedepankan quality time bagi keluarga.

Euis Rita Hartati/AB

http://www.beritasatu.com/figur/307398-pendidikan-di-indonesia-baru-tahap-menghafal.html

Pendidikan Berbasis STEM Jawaban Tantangan Global

731446699418
Indra Charismiadji, President Director PT Eduspec Indonesia (Istimewa)

Jakarta – Perkembangan global yang amat pesat akibat kemajuan di bidang teknologi mengharuskan bangsa-bangsa di dunia mengubah sistem pendidikan mereka. Dalam beberapa tahun terakhir, negara-negara maju maupun negara berkembang, berupaya meningkatkan kualitas pendidikan dengan model Pembelajaran Tematik Terpadu (PTP) atau Integrated Thematic Instruction (ITI).

Pembelajaran ini berangkat dari pendekatan tematis sebagai acuan dasar bahan dan kegiatan pembelajaran di mana tema yang dibuat mengikat baik mata pelajaran tertentu maupun antarmata Pelajaran. Pembelajaran Tematik ini secara ilmiah telah menunjukkan keberhasilannya dalam memacu percepatan dan meningkatkan kapasitas memori peserta didik.

Untuk memacu prestasi pendidikan Indonesia, Eduspec Indonesia mengenalkan sistem pendidikan berbasis Science, Technology, Engineering and Mathematics atau STEM. Ini merupakan sebuah model pembelajaran yang populer di tingkat dunia yang efektif dalam menerapkan Pembelajaran Tematik Integratif karena menggabungkan empat bidang pokok dalam pendidikan yaitu ilmu pengetahuan, teknologi, matematika, dan enjinering.

Direktur Utama Eduspec Indonesia Indra Charismiadji mengatakan metode tersebut mengajak siswa untuk mengintegrasikan mata pelajaran dan mengkorelasikannya dengan kehidupan sehari-hari. Proses pembelajaran melibatkan tujuh keahlian utama bagi siswa abad 21, yaitu, kolaborasi, kreatif, berfikir kritis, komputerisasi, pemahaman budaya, dan mandiri dalam belajar dan berkarir.

“Perkembangan dunia pendidikan sangat cepat, karena itu Indonesia harus menyesuaikan kurikulum agar dapat bersaing di era global,” ungkap Indra di sela Simposium Nasional guru dan Tenaga Kependidikan 2015 di Istora Senayan, Jakarta, Senin (23/11).

Indra menjelaskan, STEM sebuah keharusan dalam mempersiapkan anak didik menghadapi dunia nyata yang penuh masalah agar siap dalam persaingan global. Sebab, Science, technology, engineering, and mathematics adalah mata pelajaran yang saling berkaitan dalam kehidupan nyata manusia. Keempat bidang itu, saling kait mengait dan tak bisa berdiri sendiri. Namun, selama ini keempatnya dipelajari terpisah-pisah, jadi seolah-olah hanya bisa dipahami secara teori saja. Padahal, keempat bidng studi itu wajib dikuasai oleh anak didik supaya mereka bisa memecahkan masalah dalam dunia kerja, masyarakat, dan dalam semua aspek kehidupan.

“Saat ini, negara-negara yang menggunakan metode itu antara lain Finlandia, Amerika, dan Australia sejak 10 tahun lalu. Menyusul Vietnam, Tiongkok, Malaysia, Filipina,” ujar dia.

Menurut Indra, pihaknya sudah menyiapkan materi kurikulum STEM untuk sekolah-sekolah di Indonesia, mulai dari jenjang pendidikan dasar hingga menengah atas. Ia juga mengklaim kurikulum tersebut juga mengajarkan anak didik tentang computational thinking, bukan sekadar belajar menekan tombol, tetapi belajar memecahkan masalah dengan teknologi. Kurikulum ini kelak akan terintegrasi dengan sistem pendidikan (Sistem Aplikasi Belajar Aktif Elektronik) dalam mengembangkan pendidikan modern yang efektif dan efisien pendidikan berbasis teknologi.

“Indonesia harus menyadari bahwa dunia pendidikan sangat berubah, dengan kertas, kapur, dan lain-lain. Anak juga harus bawa banyak buku. Jadi, yang tadinya banyak buku sudah ada dalam komputer dalam satu kit, dengan e-Sabak, itu semua isi alat yang hanya sebesar satu buku,” tutup Indra.

Feriawan Hidayat/Indah Handayani/PCN

http://www.beritasatu.com/kesra/324186-pendidikan-berbasis-stem-jawaban-tantangan-global.html

Ini Penyebab Utama Rendahnya Anggaran Pendidikan Daerah

731446699418
Indra Charismiadji, President Director PT Eduspec Indonesia (Istimewa)


Jakarta –
Praktisi Pendidikan, Indra Chrismiadji, mengatakan, penyerapan anggaran pendidikan di seluruh Indonesia masih jauh dari target yang diamanatkan oleh Undang-undang (UU).

“Rendahnya penyerapan ini, dikarenakan dalam pembuatan Rancangan Pembangunana Jangka Menengah Daerah (RPJMD), banyak pemerintah daerah yang hanya copy paste dari RPJM Pusat. Hal ini tentunya, sangat memprihatinkan,” ujar Indara dalam acara Diskusi Pendidikan di FX Senayan, Jakarta, Selasa (12/4) petang.

Lebih lanjut Indra menyatakan, sangat tidak mengherankan jika banyak pemerintah daerah (Pemda) yang tidak memahami pengelolaan pendidikan, sehingga banyak ditemukan program daerah yang merupakan copy paste dari program pemerintah pusat. “Dengan tindakan itu, daerah tidak memiliki inovasi,” kata dia.

Menurutnya, pemda tentu memerlukan bantuan dalam penyusunan RPJMD, khususnya yang menyangkut masalah pendidikan. Apalagi, lanjut Indra, memasuki abad ke-21 ini, banyak dana pendidikan yang seharusnya bisa dialokasikan untuk pengembangan sumber daya manusia (SDM).

Selain itu, lanjut dia, rendahnya penyerapan anggaran ini disebabkan beberapa hal seperti, ketakutan kepala sekolah mengunakan anggaran, serta ketidakmampuan dalam mengelola dan menyusun program sehingga kurang kreativitasnya dinas pendidikan (Disdik) dalam membuat program.

“Ketidakmampuan pemda dalam mengembangkan program- program pendidikan, menjadi problema tersendiri dalam mengelola anggaran pendidikan. Untuk kedepan, pemda harus bermitra dengan pihak yang memahami pengelolaan dana pendidikan. Pasalnya, selama ini banyak pemda yang hanya bermitra dengan pedagang buku dan kontraktor,” kata Indra.

Direktur Utama PT Eduspec Indonesia ini menyebutkan, alokasi dana pendidikan sebagaimana diamanatkan Undang-undang sebesar 20 persen dari APBD ternyata tidak pernah dilaksanakan oleh pemda. Terbukti, kata dia, dari 34 provinsi yang ada, seluruhnya tidak mengalokasikan dana pendidikan sebesar 20 persen.

“Semuanya membebankan kepada pusat lewat APBN. Mestinya, tanggung jawab biaya pendidikan tidak hanya di pusat. Pemda harus terlibat‎ sehingga tidak hanya sebagai penerima dana APBN semata,” kata dia.

Indra menuturkan, jika ada Pemda yang mengaku sudah menyiapkan alokasi dana pendidikan sebesar 20 persen atau melebihinya, merupakan sebuah kebohongan.

“Karena, tidak ada yang melakukan hal tersebut. Jikapun ada yang mengalokasikan dana dengan jumlah besar, biasanya dalam misi tentu. Misalnya, pada saat akan berlangsung pilkada,” tambahnya.

Maria Fatima Bona/FER

Suara Pembaruan

http://www.beritasatu.com/kesra/359790-ini-penyebab-utama-rendahnya-anggaran-pendidikan-daerah.html